Tampilkan postingan dengan label KKN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KKN. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Maret 2021

Items That Must Be Carried During Kkn

Bagi kalian yang ketika ini merupakan mahasiswa semester final, niscaya udah gak ajaib dengan ungkapan KKN. Yups, Kuliah Kerja Nyata. KKN sendiri adalah salah satu mata kuliah yang mendorong mahasiswa untuk terjun ke lapangan dan menyaksikan kesempatanapa saja yang dapat dikembangkan oleh mahasiswa tersebut untuk memajukan lokasi KKN yang dipilih. Pelaksanaan KKN kurang lebih satu bulan, guys. Mahasiswa yang tergabung juga dari aneka macam jurusan yang berbeda-beda. Bisa dikatakan bahwa KKN ini merupakan salah satu fasilitas untuk menerima channel lebih banyak, sekalian menerima gebetan baru, katanya….


Di sini, saya akan sedikit membagikan pengalaman KKN yang sudah aku tinggalkan tahun lalu di salah satu desa yang berada di Kabupaten Malang dan barang-barang apa saja yang harus dibawa selama KKN. Check this out!


Tahun kemudian, dikala bulan mulia lebih tepatnya, saya menjalani mata kuliah KKN bareng sembilan belas mahasiswa lainnya dari aneka macam jurusan yang berlawanan-beda. Satu sama lain tidak pernah mengenal sebelumnya, jadi gak heran bila ketika rapat pertama kali di Fakultas Ilmu Pendidikan semuanya canggung. Awalnya, saya males banget mesti ikut KKN yang lokasinya mampu dibilang jauh dari rumah dengan durasi yang cukup usang menurutku, adalah satu bulan. Ditambah saya gak kenal siapa-siapa di sana. Dengan berat hati, jadinya saya berangkat. Dari yang permulaan-awal aku males banget, hingga rasanya saya gak rela KKN ini rampung. Kenapa aku gak rela KKN ini berakhir? Next time saya akan bagikan pengalaman saya di goresan pena selanjutnya.


Selama KKN itu, saya sering banget ngeluh dalam hati tentang barang yang semestinya saya bawa ke lokasi KKN namun saya lupa. Entah itu barang yang bisa digunain secara personal atau tolong-menolong. So, buat kalian yang mau menjalani periode-kurun KKN, baca goresan pena ini sampai habis, siapa tahu kalian perlu. Hehe….



  1. Sikat gigi: The basic, guys. Satu bulan kalian akan tinggal di tempat yang mungkin belum pernah kalian kunjungi, bila mampu bawa sikat gigi lebih dari satu. Karena apa? Karena, jikalau kalian hanya bawa satu sikat gigi, kemungkinan besar sikat gigi kalian akan keselip di mana-mana dan mampu aja hilang. Makara, untuk mengantisipasi hal tersebut bawalah sikat gigi dua buah untuk jaga-jaga.

  2. Pasta gigi: Pasangannya sikat gigi pasti pasta gigi dong, ya. Tuh, sikat gigi aja punya pasangan, masa kalian gak punya pasangan? Nah, untuk pasta gigi ini kalian lebih baik bawa pasta gigi yang ukuran besar. Karena apa? Karena, biar gak bolak-balik indomaret jika pasta gigi kalian habis. Sekalian jikalau ada sobat yang kehabisan pasta gigi dan pasta gigi kita masih banyak, kita bisa bantu teman kita yang sedang kesulitan. Hitung-hitung amal, ya.

  3. Sabun batangan: Untuk kalian yang kebiasaan menggunakan sabun cair, mending kebiasaan itu diubah kalau kalian mau KKN. Alesannya cuma satu, BERHEMAT!

  4. Shampo: Dari pengalaman aja nih, guys. Dulu, waktu KKN saya bawa shampo botolan yang tanggung. Eh, gres dua minggu shampo aku habis. Padahal biasanya shampo botolan yang di rumah bisa sampai satu bulan gres habis. Makara, saya inisiatif untuk bawa shampo dalam bentuk sasetan selama KKN. Alesannya apa? Masih sama, BERHEMAT!


Oke, sekian dahulu, guys! Sebenarnya masih banyak yang pengen saya sharing ke kalian. Karena, waktu luang saya di tempat kerja gak terlalu banyak, jadi aku hanya mampu sharing segitu dulu. Hehe….


See you!


With love,


Bunga


 


Kode Konten : KL022



Sumber we.com

Rabu, 24 Maret 2021

Pengalaman Kkn

Perkenalkan nama saya Dinda Rizki Wahyuni mahasiswi Program studi Ilmu Tanah Jurusan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya. Oh iya aku angkatan 2016 salam kenal untuk seluruhnya.  Kali ini aku akan membagikan pengalaman selama melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN). KKN yang saya ambil kemarin itu adalah KKN Reguler jadi pihak forum universitas yang menentukan tempat kami KKN nantinya. Enaknya di KKN reguler ini lazimnya kami di tempatkan di tempat-tempat yang terpelosok dan jumlah setiap kalangan mampu meraih 10 orang. Pembagian golongan KKN ini di tentukan oleh pihak lembaga LPPM-nya jadi dalam satu kalangan terdiri atas beberapa fakultas yang berlainan. Disana kita akan berjumpa dengan orang-orang yang gres bahkan tidak pernah kita kenal sebelumnya. Tapi itulah bagian terserunya heheheh.


Sebelum melakukan KKN kami tidak dilepas begitu saja, ada yang namanya pembekalan. Pembekalan wajib alasannya adalah masuk SKS. Sebelum melaksanakan pembekalan biasaya dari forum sudah dibagi kalangan KKN dan desa yang mau menjadi kawasan KKN. Makara jauh-jauh hari sebelum pembekalan sudah saling memperkenalkan diri via sosmed. Kalo kemarin sih kami komunikasi lewat Whatsapp. Saling berkomunikasi pra KKN itu penting dikerjakan selaku upaya pendekatan diri (PDKT J) supaya ketika telah di posko gak kaku-kaku amat dan berbaur bisa lebih kalem.


Ada beberapa hal yang mesti di rencanakan sebelum melaksanakan KKN ialah merencanakan perlengkapan apa saja yang hendak dibawa selama KKN. Banyak sih yang perlu dibawa, tapi kali ini aku akan memperlihatkan tips-tips supaya packing barang-barang yang dibawa lebih efisien.



  1. Bawalah barang-barang yang diperlukan saja, tidak pelu menenteng banyak barang yang nantinya tidak akan dipakai terlalu sering.


Contoh :


Pakaian



  • Jas Almamater

  • Baju santai (3-4 setel)

  • Baju formal (1 setel)

  • Baju untuk berpergian (2-3 setel)

  • Pakaian dalam seperlunya

  • Jaket

  • Kaos kaki

  • Sepatu

  • Sandal Jepit


Perlengkapan tidur



  • Kasur lipat

  • Bantal

  • Selimut


Perlengkapan mandi



  • Sabun mandi, sikat gigi, pasta gigi, dll

  • Handuk


dst



  1. Bagilah perlengkapan menjadi dua yaitu perlengkapan pribadi/individu dan peralatan kalangan. Ini dilaksanakan untuk menekan ongkos.


Selain kiat-kiat pengemasan ada hal-hal yang terpenting diperhatikan dalam melaksanakan KKN antara lain :


1)      Tentukanlah struktur organisasi dalam kalangan KKN, jabatan yang terpenting diadakan ialah ketua kalangan yang peran  pokoknya adalah memimpin, mengkoordinasi serta menertibkan kegiatan KKN, sekretaris yang memiliki tugas pokok dalam melakukan manajemen kesekretariatan dan melaksanakan koordinasi antar pengurus dan kelembagaan, dan yang terakhir yakni bendahara yang mempunyai tugas pokok dalam melaksanakan pengelolaan keuangan dan pengadaan kebutuhan barang organisasi dalam pelaksanaan KKN


2)      Hindari konflik dalam pelaksanaan KKN utamakan tujuan alasannya adalah pada dasarnya kita melaksanakan KKN ialah untuk mengabdi terhadap masyarakat. Tinggalkan ego masing-masing.


3)      Kerjasama tim sangat diharapkan dalam melakukan program kerja baik itu program kerja individu maupun acara kerja kelompok. Semua anggota harus pundak-membahu saling membantu demi terlaksananya acara kerja.


4)      Sebelum melaksanakan KKN seharusnya dikerjakan survei lokasi tujuan KKN


5)      Selalu ingatlah di mana bumi di pijak di situ langit dijunjung.


Sebelumnya aku menyebutkan untuk melaksanakan survei lokasi, nah survai ini penting untuk dilaksanakan. Tempat tinggal kita dimana, karena pastinya meskipun KKN setidaknya kita menginginkan ketentraman bukan? Bukan memiliki arti kenyamanan disini harus tinggal di rumah yang ber-AC dan sebagainya. Kenyamanan yang dimaksud di sini adalah apakah rumah yang kita tempati punya dekat dengan rumah warga? Apakah bersahabat dengan sumber air? dll.


Dalam melaksanakan KKN kita tentu saja telah mendesain program kerja apa saja yang akan dikerjakan. Dalam penentuan acara kerja sebaiknya berdiskusi dengan perangkat desa. Perangkat desa akan menolong memberi tahukan masalah apa saja yang terdapat di desa sehingga kita selaku mahasiswa pelaksana program KKN dapat membantu menunjukkan solusi terhadap masyarakat. Selain berdiskusi dengan perangkat desa perlu juga melaksanakan pendekatan dengan karang taruna desa. Karang taruna inilah yang nantinya akan membantu kita dalam melakukan program kerja sekaligus jembatan untuk mendekatkan diri dengan warga desa.


Dalam melaksanakan kegiatan KKN banyak hal yang terjadi, mulai dari selisih paham dengan sesama anggota, anggota yang tidak inginmelakukan pekerjaan dalam melakukan acara, anggota yang tidak membaur dengan masyarakat, bahkan timbul pandangan miring oleh penduduk ihwal kalangan KKN kami. Hal-hal tersebut dapat kami atasi dengan sering berdiskusi pada malam harinya setelah briefing aktivitas untuk besok. Ngomong-ngomong tentang briefing ada kejadian lucu, jadi ceritanya dari pagi hingga sore kami semua sibuk melakukan acara sehingga pada saat pulang ke posko smua anggota capek dan mengakibatkab pada malam harinya tidak melakukan briefing. Kaprikornus, keesokan harinya kami masih kecapekan walaupun ada beberapa anggota yang punya stamina gorila hehehhe, rasa letih menyebabkan dalam satu hari kami semua tidak ada yang melakukan kegiatan. Dan yang punya stamina lebih tersebut akibatnya tidak tau mesti berbuat apa dan malah ikut tidur-tiduran di posko.


Selama KKN ada tatangan tersendiri dalam melaksanakan aktivitas yang tentu saja cukup membuat kami memutar otak untuk memecahkan dilema tersebut. Pada dikala kami melaksanakan aktivitas kurangnya minat penduduk dalam menjadi tantangan tersendiri bagi kami. 40 hari bukanlah waktu yang cukup untuk benar-benar erat dengan penduduk . Saya teringat ucapan salah satu warga desa yang aku ajak ngobrol di desa, di bilang begini “wah, cuma 40 hari ya. Barulah akrab dengan masyarakat eh sudah pisah”. Yup benar sekali kami mulai erat dengan masyarakat desa pada 2 minggu terakhir sebelum kepulangan kami. Kami merasa terikat dengan masyarakat desa. Sedih rasanya harus meninggalkan desa, bocah-bocah yang umumnya meramaikan posko kami bahkan ada yang menangis tak rela kami pulang.


Ada satu kisah yang paling bikin saya terharu selama KKN, jadi selama KKN kami tinggal di rumah anaknya Pak Kades. Anaknya Pak Kades ini telah berkeluarga dan punya anak perempuan imut banget pokoknya pinter pula, padahal umurnya baru 1,8 tahun. Ada anggota kami yang paling beliau sukai namanya angga, angga ini penduduknya emang kelihatan gampang erat sama anak kecil. Pokoknya cucunya pak kades ini maunya nempel terus sama angga. Bahkan ia akan nangis kalau di tinggal sama angga dan cemburu kalo angga direbut sama orang lain. Saking dekatnya angga dengan Queen (nama cucu pak kades) kami menjulukinya istri periode depannya angga. hehheh


Ada pelajaran berguna yang mampu aku ambil selama KKN yakni KKN mengajarkan kita untuk hidup bermasyarakat yang tidak kita peroleh selama duduk di bangku kuliah, orang-orang yang kita gres kenal akan terlihat sifat aslinya sesudah sepekan-dua minggu kenal. Kalau kita klop banget sama tu orang bakal sukar buat pisah lagi. Contoh nih saya, jadi aku punya sobat yang sungguh-sungguh bersahabat sampai kini bahkan kami masih sering berkomunikasi melalui Whatsapp, videocall bareng dan sering nginep dikosannya. Pokoknya udah sulit gitu buat dilupain gitu aja.


Sekian cerita pengalaman KKN saya selama 40 hari, tidak banyak yang mampu saya share disini, supaya mampu menjadi rujukan kalian kedepannya dan mampu lebih menyiapkan diri dalam melakukan KKN.


Salam hangat,


 


Kode Konten : KL020


 



Sumber we.com

Jumat, 05 Maret 2021

Resep Diam-Diam Untuk Berhasil Kkn

Resep Rahasia Untuk Sukses KKN


Oleh: Ahmad Sangidu


Tak kenal maka tak sayang. Maka izinkan saya memperkenalkan diri. Sesuai akte kelahiran, nama lengkapku yakni Ahmad Sangidu. Orang-orang di sekitarku memanggilku dengan nama belakangku: Sangidu. Tetapi terserah Dikau. Toh diriku tidak pernah memarahi semua orang cuma karena panggilan ajaib yang diberikan kepadaku. Asal bukan “sayang”.  Karena hanya tiga orang yang boleh memakai kata itu: ayah, ibu, dan orang Magelang itu.


Oiya, saya dari Kampus Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) An Nur Yogyakarta. Aku masuk kampus tahun 2015 lalu, cuma ada dua jurusan pada waktu itu, menentukan antara Pendidikan Agama Islam (PAI) atau Ilmu Al-Alquran dan Tafsir (IAT). Pilihanku jatuh kepada dirimu jurusan Pendidikan Agama Islam. Sekarang, Kampus IIQ An Nur telah ada banyak pilihan, mampu kalian cek sendiri lewat situs web atau media sosialnya. Ketika saya masuk, nama kampus masih Sekolah Tinggi Ilmu AL-Qur’an (STIQ) An Nur. Baru berubah menjadi institut pada 2017.


Menurut data kampus, saya ikut angkatan KKN ke-15. Awal mula KKN, tentu saja pembentukan golongan. Sama halnya dengan kampus-kampus lain, sahabat atau sahabat tidak niscaya jadi satu kalangan. Waktu itu, kelompokku ada 11 mahasiswa: 5 putra dan 6 putri. Hanya dua orang yang begitu akrab dengan diriku. Sayangnya dua orang ini tidak akrab rumahnya dengan rumahku, sehingga mereka tidak tahu bila diriku ini bergotong-royong payah dan kegemaran marah-murka. Beruntunglah. Hehe.


Pihak kampus menuntut kami menggunakan tema KKN yang sesuai dengan basisnya ialah religius, yang ada kaitannya dengan Al-Qur’an. Lalu, kami berdiskusi lengkap bareng dengan dosen pembimbing lapangan dan sepakat memakai tema: “Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Nilai-Nilai Al-Qur’an”. Ada dua kewajiban yang harus kita gugurkan: mengajarkan cara merawat jenazah dan fikih kewanitaan. Dalam era waktu dua bulan, pasti itu bukanlah hal yang sulit bagi kami. Karena kampus kami berbekal pesantren dan lebih banyak didominasi dari kami menjadi santri, dua bahan itu sudah renyah dan enteng buat disampaikan.


Sebelum penerjunan, kami melaksanakan survei lokasi, sekitar tujuh hari sebelum penerjuan secara resmi oleh pihak kampus. Survei itu juga berfungsi untuk pengerjaan acara kerja. Bersama dosen pembimbing, kami keliling kampung, menemui tokoh-tokoh penting, melihat letak geografis, dan masih banyak lagi, tergolong mencari posko mukim. Setelah survei kami membuat program kerja dan memaparkan kepada pihak kampus. Ketika pemaparan program kerja, kalangan kami nomor depalan, jadi memaparkan nomer dua terakhir.


Tanpa disangka-sangka, program kami yang cuma biasa, tidak ada yang istimewa, menerima aplaus dari para dosen. Komentar para dosen menyebutkan bahwa acara kami yang tidak muluk-muluk itu sungguh matang: rancangan, perencanaan, hingga hasil, tertulis begitu rapi dan terang dalam buku usulan acara kerja yang kami buat. Jujur, kami bahu-membahu sangat minder ketika mendengar acara kerja golongan lainnya, yang sangat keren dan kreatif. Eh, malah sesudah pemaparan program kerja dan aplaus itu, kami, kelompok tujuh dicari-cari oleh golongan lain dan menjadi rujukan dalam pembuatan proposal acara kerja. Kelompok lain menjajal mempelajari pengerjaan program kerja kami yang begitu rasional menurut dosen. Bahkan ada beberapa kelompok yang menghapus programnya setelah menyaksikan proposal kami. Takut akan tidak tercapainya acara mereka.


Penerjunan KKN diwarnai gerimis. Setelah penerjunan di balai desa, kami menuju posko. Langkah permulaan sebelum mewujudkan acara tentu saja sosialisasi program kerja kepada masyarakat. Pada potensi ini, kami memanggil semua tokoh penting di desa. Saat kami memaparkan acara yang kami buat, tentu saja ada kritik dan rekomendasi dari para tokoh penting masyarakat sekitar. Setelah itu kami putuskan bersama dosen pembimbing terkait acara mana yang berhubungan dengan masukan yang diberikan.


Akan namun, di sini saya tidak akan membahas acara yang kami realisasikan. Berdasarkan pengalaman selama KKN, saya ingin berbagi resep belakang layar supaya KKN yang dijalankan bisa sukses. Meski beberapa acara yang telah direncanakan tidak terlaksana.


Pertama, jalin komunikasi. Ini yaitu kunci prioritas agar KKN anda sukses. Komunikasi mesti terjalin dengan baik, mulai sesama anggora golongan, dosen pembimbing, pihak kampus, lebih-lebih terhadap masyarakat desa setempat. Jangan sampai terjadi miskomunikasi, sedikit pun. Sekecil apapun penghambat atau fenomena yang timbul, saat itu juga harus dikomunikasikan. Pertama dengan kelompoknya, gres diobrolkan lebih lanjut dengan penduduk desa setempat. Terkait tokoh masyarakat desa, paling tidak terjalin komunikasi secara apik terhadap: pemuda-pemudi, tokoh agama atau sesepuh, ketua RT dan RW, dan dukuh. Syukur bila mampu lebih banyak lagi, komunikasi bisa menyeluruh sampai ke semua warga. Sering ikut ronda, bermain bareng perjaka, ikut kumpulan kampung, dan sebagainya. Ini ialah langkah termudah menjalin komunikasi. Dengan komunikasi yang terjalin baik, maka semua program akan tanpa kendala dan maksimal. Semua warga akan jadi bersemangat dalam setiap programnya. Lebih mahir lagi per individu di kampung kenal dan pernah ngobrol. Sehingga mahasiswa yang sedang KKN serasa bukan KKN, melainkan serasa menjadi anggota warga di situ. Ini bukan sulit dilaksanakan. Bahkan kami sudah melakukan, bahkan sampai kini sudah lebih setahun setelah KKN, kami masih sering main ke kampung tersebut. Sebab kami sudah dianggap selaku warga di situ. Makara, dikala ada event kami berusaha datang.


Kedua, sesuaikan sikap dengan adab istiadat lokal. Posisi kita adalah tamu, maka supaya dihormati dan diterima harusnya mampu mengikuti keadaan. Jangan sampai sebab mahasiswa, terus merasa yang paling benar, kemudian merubah tradisi yang sudah berjalan semenjak usang di kampung itu. Ini sangat fatal. Bahkan bisa jadi KKN yang berjalan akan dianjurkan pihak kampung untuk segera ditarik. Pelaksanaan program bareng masyarakat dengan pendapatdari masyarakat. Haram hukumnya memaksakan program yang dianggap melenceng oleh masyarakat. Sebagai mahasiswa yang intelektual mesti memberikan sikap ramah tamah. Sebagai acuan: KKN di kawasan Jogja. Maka otomatis menyesuaikan budpekerti istiadat Jogja. Cara bertutur kata, cara berpakaian, dan seterusnya. Ketika pihak kampung memberikan masukan, harus diterima dan disampaikan kepada teman yang lain. Biasanya juga dalam satu desa ada beberapa posko atau bahkan per dukuh ada poskonya. Maka juga mesti diadaptasi etika istiadat di kawasan lain. Jangan hingga bertamu sembarang pilih di posko lain. Ini juga bisa jadi catatan tinta merah bagi kampus. Di minggu permulaan masih proses adaptasi. Wajar jika ada salah. Karena saking sukanya berdiskusi, tiba-datang tengah malam jam 23.30 WIB bertamu ke posko lain. Padahal di posko yang dikunjungi ada hukum dihentikan bertamu di atas pukul 22.00 WIB. Sebagai mahasiswa, mesti ingat bahwa KKN yang sedang berjalan menjinjing nama besar kampus. Adab, tata krama, unggah-ungguh, semua mesti menyesuaikan dengan adat istiadat lokal. Jika warga telah bahagia dengan mahasiswa, pasti KKN lebih lancar.


Ketiga, aktif di semua aktivitas penduduk . Sekecil apapun acara itu, para mahasiswa tetap mesti terlibat di dalamnya. Meskipun itu juga tidak ada dalam program kerja. Timbal baliknya, acara kerja KKN akan banyak yang ikut serta pula. Minta bab tugas supaya memperbesar nilai lebih. Jangan menunggu dikasih tugas, melainkan harus minta. Semua anggora KKN harus ada, kecuali ada tugas lain. Pasti warga akan menanyakan mahasiswa yang tidak ikut. Jangan biasakan menyepelekan hal kecil, seperti ronda malam. Jangan biarkan aktivitas yang berlangsung di penduduk tidak ada mahasiswa yang terlibat. Sibuk peran tidak patut dijadikan alasan. Memang kadang ada mahasiswa yang introvert, tetapi tetap mesti digerakkan mereka itu.


Terakhir, ini hanyalah pengalaman singkat yang coba saya sampaikan kepada panjenengan. Semua orang punya pengalaman sendiri-sendiri. Saya saja tidak tahu, ketiga poin di atas memang berhubungan buat kalian yang mau KKN terapkan, atau sama sekali tidak penting. Tetapi, semua pasti baiklah, jika KKN adalah abad dedikasi kepada masyarakat. Oleh akhirnya, berhasil atau tidaknya di tangan penduduk itu sendiri, bukan pihak kampus. Jujur, ketiga hal di atas kami lakukan dan hampir selama masa KKN kami tidak mendapatkan hambatan. Program kerja terlakasana dengan ringan karena pinjaman dari warga. Tantangan besar terdapat pada tiga hal di atas, dan kami sukses melewati dengan sangat bagus. Kami mendapatkan pengalman berharga selama KKN, bahwa KKN yaitu abad dedikasi, dan mahasiswa harus berkembang menjadi jadi warga di situ, dan berupaya bareng merealisasikan kehidupan yang haromis serta lebih baik.


Kode Konten: K0039



Sumber we.com